Sabtu, 11 Oktober 2014

10 alasan kegagalan startup menurut pengakuan para founder

kegagalan startupStartup yang gagal sangat cepat tenggelam dan terlupakan; namun bila mengenai kesuksesan, startup juga yang paling cepat disorot media. Hal tersebut merupakan kewajaran karena sesuatu yang berhubungan dengan kesuksesan dan positif selalu menginspirasi. Meskipun, seperti kata pepatah, kegagalan adalah guru terbaik. Walaupun tidak banyak startup yang ingin mengenang kegagalannya, banyak startup yang akhirnya mau berbagi karena ekosistem startup yang sudah mulai matang.
Perusahaan riset VC, CB Insight telah menyusun berbagai alasan kegagalan startup, dan pelajaran tersebut menjadi dasar analisis mereka sebagai buku panduan bagi startup. Para analis berpendapat bahwa semakin banyak startup maka semakin banyak jenis alasan kegagalan, meskipun juga ada alasan sama yang berulang. Hal yang perlu diingat adalah tidak hanya ada satu alasan yang membuat startup gagal, tapi biasanya merupakan gabungan dari berbagai alasan. Berikut 10 alasan teratas kegagalan startup:

Tidak menyediakan kebutuhan pasar

Alasan utama kegagalan startup adalah mereka hanya mengembangkan apa yang mereka ingin lakukan alih-alih memenuhi kebutuhan pasar: 42 persen startup gagal yang disurvei oleh CB Insight menyebutkan hal tersebut sebagai alasan kegagalan. Mereka membangun startup yang elegan, dan mencari permasalahan yang cocok. Salah satu startup jenis tersebut, Patient Communicator, mengungkapkan:
Saya menyadari bahwa startup kami tidak memiliki konsumen karena tidak ada satupun orang yang tertarik dengan bisnis model yang kami tawarkan. Dokter membutuhkan lebih banyak pasien, bukan kantor yang efisien.
Jadi jangan terburu-buru untuk membangun bisnis. Identifikasi poin masalahnya, dan lalu temukan solusi.

Kehabisan uang

“Meskipun telah melakukan beragam pendekatan dan perubahan dalam mengikuti kebutuhan pasar (dan monetisasi), Flud akhirnya kehabisan dana.” Masalah yang dialami Flud juga dialami oleh 26 persen startup yang mengikuti survei. Ini menunjukkan pentingnya kematangan perencanaan serta alokasi dana dan waktu. Anda tentunya tidak menginginkan startup kehabisan dana sebelum berhasil.

Tidak menemukan tim yang tepat

Startup bisa saja gagal bila anggota timnya tidak memiliki visi yang sama. Dibutuhkan keragaman kemampuan yang dimiliki untuk terus berjalan. Hal tersebut juga menjadi alasan VC untuk mendanai startup yang memiliki dua atau lebih co-founder. Sebuah studi dari Standout Jobs menjelaskan: “Tim founder tidak bisa membangun Minimum Viable Product atau prototipe produk sendirian. Kami bisa saja menambah co-founder, namun kami tidak melakukannya.” Tidak ingin melepaskan equitas atau takut terhadap perbedaan personaliti kadang dapat mencegah pembentukan tim yang baik. Partner yang berpengalaman juga dapat bertindak sebagai pemberi ide tambahan dan menyediakan tambahan modal saat kekurangan.

Mengabaikan kompetisi

Para startup sering disarankan untuk fokus pada yang mereka jalani dibandingkan melihat persaingan yang ada. Sayangnya hal tersebut dapat berakibat sangat fatal. Mengabaikan kompetitor mendapat suara 19 persen dalam survei kegagalan startup. Salah satunya Wesabe, yang mengakui bagaimana mereka yakin untuk mengatasi masalah konsumennya dengan menyediakan privasi lebih dan membuat mereka kurang bergantung pada single provider. Namun hal tersebut berakibat fatal. “Sehingga membuat Mint (pesaing Wesabe) memiliki celah lebih banyak untuk menyusul lebih cepat.”

Ketidak-sesuaian harga

Memberi harga pada produk atau jasa baru dapat menjadi bagian paling sulit sebelum diluncurkan di pasar. Pengalaman ini serupa dengan yang dialami oleh startup Delight IO. Mereka telah memiliki biaya langganan bulanan yang memberi penggunanya rekaman dalam jumlah tertentu. Masalah ini berujung pada banyaknya pelanggan yang berguguran karena merasa dikecewakan. Alasannya karena pengguna mengatakan banyak yang menyediakan harga lebih murah. Akhirnya Delight IO mengatasi masalah biaya langganan ini berdasarkan durasi lamanya rekaman, dan biaya rekaman mulai naik. Jadi masalah ini bukan hanya tentang harga, tapi juga harapan yang diinginkan.

Bukan produk yang mudah digunakan

Kadang developer merasa sangat hebat dengan karya yang dihasilkan tanpa berpikir apa yang diinginkan pengguna. Contohnya, startup spesialis game yang mengharuskan penggunanya mengerti ‘sulitnya pembuatan website’. Tentunya hal tersebut sangat mengganggu penggunanya untuk langsung ke game inti dan melihat cara kerja website. GameLayers mengakui hal ini setelah gagal:
Bila melihat kebelakang, saya yakin kami harus merapikan tampilan website, membuang ego kami, dan membuat sesuatu yang lebih mudah dan menyenangkan, dalam tampilan pertama interface.
Hal yang diperlukan adalah empati terhadap pengguna, namun hal tersebut tidak mudah.

Model bisnis tidak sempurna

Sebuah startup dapat terus maju dan berbuah manis sebelum jatuh di saat harus melakukan peningkatan. Ini karena bisnis model yang dijalani hanya di beberapa saat, dan tidak berjalan baik saat harus menghasilkan uang di skala lebih besar. Seperti yang dialami Tutorspree yang menaikkan traksi, dan bahkan terpilih untuk inkubasi oleh Y Combinator, namun tidak mampu menguntungkan. Akhirnya, mereka hanya berfokus pada SEO.
“Kami sangat bergantung pada sebuah channel, namun tiba-tiba channel tersebut berbalik menghancurkan,” jelas Tutorspree.

Tidak mementingkan marketing

Dari semua startup yang gagal, hanya 14 persen yang menyebut “tidak mementingkan proses marketing” sebagai alasan kegagalan mereka. Kebanyakan startup yang gagal dalam hal ini didirikan oleh mereka yang mengerti dunia online dan paham coding dan membangun produk atau jasa, namun tidak berpengalaman dalam berpromosi atau menemukan konsumen.
Kasus ini dialami oleh Overto. “Di beberapa periode awal, angka pengguna naik secara sistematis. Lalu kemenangan tersebut membuat kami lupa diri. Padahal seharusnya di titik tersebut kami melakukan marketing. Sayangnya tidak ada satupun dari tim yang mengerti tentang marketing. Lebih buruknya lagi, tidak ada yang memiliki waktu menambal lubang masalah tersebut.” Memahami target konsumen, mendapatkan perhatian mereka dan menjadikan mereka sebagai konsumen merupakan hal vital di tiap bisnis, namun banyak founder startup yang mengabaikannya, bahkan tidak pula mencari bantuan kepada yang ahli.

Kekurangan feedback dari konsumen

Visi yang tidak jelas menjadi kegagalan bagi banyak startup. Saat harus memasarkan produk atau jasa kepada publik dan biarkan konsumen mencobanya merupakan hal yang sulit diputuskan, namun menghabiskan banyak waktu untuk membuatnya sempurna akan mengaburkan harapan juga. “Kami berpikir barang yang kami hasilkan telah bagus, namun sayangnya kami tidak mendapat banyak masukkan dari klien. Kami tidak menyadarinya hingga benar-benar terlambat. Sangat mudah berpikir bahwa karya yang dihasilkan sudah keren,” ungkap VoterTide.

Terlalu dini bagi pasar

Kebalikan dari poin sebelumnya – terlalu dini untuk tidak melewatkan peluang mendapatkan ketertarikan konsumen juga bisa menjadi alasan kegagalan startup. Atau kadang ide atau kondisi bisnis hanya akan cocok untuk masa mendatang, seperti yang dialami Calxeda: “Kami bergerak lebih cepat dari yang dilakukan konsumen kami. Keputusan kami terlalu dini saat ekosistem OS masih belum sempurna – kami terlalu dini bagi pasar.”

Tidak ada komentar: