Startup yang gagal sangat cepat tenggelam dan
terlupakan; namun bila mengenai kesuksesan, startup juga yang paling
cepat disorot media. Hal tersebut merupakan kewajaran karena sesuatu
yang berhubungan dengan kesuksesan dan positif selalu menginspirasi.
Meskipun, seperti kata pepatah, kegagalan adalah guru terbaik. Walaupun
tidak banyak startup yang ingin mengenang kegagalannya, banyak startup
yang akhirnya mau berbagi karena ekosistem startup yang sudah mulai
matang.
Perusahaan riset VC, CB Insight
telah menyusun berbagai alasan kegagalan startup, dan pelajaran
tersebut menjadi dasar analisis mereka sebagai buku panduan bagi
startup. Para analis berpendapat bahwa semakin banyak startup maka
semakin banyak jenis alasan kegagalan, meskipun juga ada alasan sama
yang berulang. Hal yang perlu diingat adalah tidak hanya ada satu alasan
yang membuat startup gagal, tapi biasanya merupakan gabungan dari
berbagai alasan. Berikut 10 alasan teratas kegagalan startup:
Tidak menyediakan kebutuhan pasar
Alasan utama kegagalan startup adalah mereka hanya mengembangkan apa
yang mereka ingin lakukan alih-alih memenuhi kebutuhan pasar: 42 persen
startup gagal yang disurvei oleh CB Insight menyebutkan hal tersebut
sebagai alasan kegagalan. Mereka membangun startup yang elegan, dan
mencari permasalahan yang cocok. Salah satu startup jenis tersebut,
Patient Communicator, mengungkapkan:
Saya menyadari bahwa startup kami tidak memiliki konsumen karena tidak ada satupun orang yang tertarik dengan bisnis model yang kami tawarkan. Dokter membutuhkan lebih banyak pasien, bukan kantor yang efisien.
Jadi jangan terburu-buru untuk membangun bisnis. Identifikasi poin masalahnya, dan lalu temukan solusi.
Kehabisan uang
“Meskipun telah melakukan beragam pendekatan dan perubahan dalam
mengikuti kebutuhan pasar (dan monetisasi), Flud akhirnya kehabisan
dana.” Masalah yang dialami Flud juga dialami oleh 26 persen startup
yang mengikuti survei. Ini menunjukkan pentingnya kematangan perencanaan
serta alokasi dana dan waktu. Anda tentunya tidak menginginkan startup
kehabisan dana sebelum berhasil.
Tidak menemukan tim yang tepat
Startup bisa saja gagal bila anggota timnya tidak memiliki visi yang
sama. Dibutuhkan keragaman kemampuan yang dimiliki untuk terus berjalan.
Hal tersebut juga menjadi alasan VC untuk mendanai startup yang
memiliki dua atau lebih co-founder. Sebuah studi dari Standout Jobs
menjelaskan: “Tim founder tidak bisa membangun Minimum Viable Product
atau prototipe produk sendirian. Kami bisa saja menambah co-founder,
namun kami tidak melakukannya.” Tidak ingin melepaskan equitas atau
takut terhadap perbedaan personaliti kadang dapat mencegah pembentukan
tim yang baik. Partner yang berpengalaman juga dapat bertindak sebagai
pemberi ide tambahan dan menyediakan tambahan modal saat kekurangan.
Mengabaikan kompetisi
Para startup sering disarankan untuk fokus pada yang mereka jalani
dibandingkan melihat persaingan yang ada. Sayangnya hal tersebut dapat
berakibat sangat fatal. Mengabaikan kompetitor mendapat suara 19 persen
dalam survei kegagalan startup. Salah satunya Wesabe, yang mengakui
bagaimana mereka yakin untuk mengatasi masalah konsumennya dengan
menyediakan privasi lebih dan membuat mereka kurang bergantung pada single provider.
Namun hal tersebut berakibat fatal. “Sehingga membuat Mint (pesaing
Wesabe) memiliki celah lebih banyak untuk menyusul lebih cepat.”
Ketidak-sesuaian harga
Memberi harga pada produk atau jasa baru dapat menjadi bagian paling
sulit sebelum diluncurkan di pasar. Pengalaman ini serupa dengan yang
dialami oleh startup Delight IO. Mereka telah memiliki biaya langganan
bulanan yang memberi penggunanya rekaman dalam jumlah tertentu. Masalah
ini berujung pada banyaknya pelanggan yang berguguran karena merasa
dikecewakan. Alasannya karena pengguna mengatakan banyak yang
menyediakan harga lebih murah. Akhirnya Delight IO mengatasi masalah
biaya langganan ini berdasarkan durasi lamanya rekaman, dan biaya
rekaman mulai naik. Jadi masalah ini bukan hanya tentang harga, tapi
juga harapan yang diinginkan.
Bukan produk yang mudah digunakan
Kadang developer merasa sangat hebat dengan karya yang dihasilkan
tanpa berpikir apa yang diinginkan pengguna. Contohnya, startup
spesialis game yang mengharuskan penggunanya mengerti ‘sulitnya
pembuatan website’. Tentunya hal tersebut sangat mengganggu penggunanya
untuk langsung ke game inti dan melihat cara kerja website. GameLayers
mengakui hal ini setelah gagal:
Bila melihat kebelakang, saya yakin kami harus merapikan tampilan website, membuang ego kami, dan membuat sesuatu yang lebih mudah dan menyenangkan, dalam tampilan pertama interface.
Hal yang diperlukan adalah empati terhadap pengguna, namun hal tersebut tidak mudah.
Model bisnis tidak sempurna
Sebuah startup dapat terus maju dan berbuah manis sebelum jatuh di
saat harus melakukan peningkatan. Ini karena bisnis model yang dijalani
hanya di beberapa saat, dan tidak berjalan baik saat harus menghasilkan
uang di skala lebih besar. Seperti yang dialami Tutorspree yang
menaikkan traksi, dan bahkan terpilih untuk inkubasi oleh Y Combinator,
namun tidak mampu menguntungkan. Akhirnya, mereka hanya berfokus pada
SEO.
“Kami sangat bergantung pada sebuah channel, namun tiba-tiba channel tersebut berbalik menghancurkan,” jelas Tutorspree.
Tidak mementingkan marketing
Dari semua startup yang gagal, hanya 14 persen yang menyebut “tidak
mementingkan proses marketing” sebagai alasan kegagalan mereka.
Kebanyakan startup yang gagal dalam hal ini didirikan oleh mereka yang
mengerti dunia online dan paham coding dan membangun produk atau jasa,
namun tidak berpengalaman dalam berpromosi atau menemukan konsumen.
Kasus ini dialami oleh Overto. “Di beberapa periode awal, angka
pengguna naik secara sistematis. Lalu kemenangan tersebut membuat kami
lupa diri. Padahal seharusnya di titik tersebut kami melakukan
marketing. Sayangnya tidak ada satupun dari tim yang mengerti tentang
marketing. Lebih buruknya lagi, tidak ada yang memiliki waktu menambal
lubang masalah tersebut.” Memahami target konsumen, mendapatkan
perhatian mereka dan menjadikan mereka sebagai konsumen merupakan hal
vital di tiap bisnis, namun banyak founder startup yang mengabaikannya,
bahkan tidak pula mencari bantuan kepada yang ahli.
Kekurangan feedback dari konsumen
Visi yang tidak jelas menjadi kegagalan bagi banyak startup. Saat
harus memasarkan produk atau jasa kepada publik dan biarkan konsumen
mencobanya merupakan hal yang sulit diputuskan, namun menghabiskan
banyak waktu untuk membuatnya sempurna akan mengaburkan harapan juga.
“Kami berpikir barang yang kami hasilkan telah bagus, namun sayangnya
kami tidak mendapat banyak masukkan dari klien. Kami tidak menyadarinya
hingga benar-benar terlambat. Sangat mudah berpikir bahwa karya yang
dihasilkan sudah keren,” ungkap VoterTide.
Terlalu dini bagi pasar
Kebalikan dari poin sebelumnya – terlalu dini untuk tidak melewatkan
peluang mendapatkan ketertarikan konsumen juga bisa menjadi alasan
kegagalan startup. Atau kadang ide atau kondisi bisnis hanya akan cocok
untuk masa mendatang, seperti yang dialami Calxeda: “Kami bergerak lebih
cepat dari yang dilakukan konsumen kami. Keputusan kami terlalu dini
saat ekosistem OS masih belum sempurna – kami terlalu dini bagi pasar.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar